Saturday, May 23, 2015

Pengertian Baru

Bismillahirrohmanirrohim.
Halo apa kabar hati? Semoga baik-baik saja ya. Karena hari ini aku baru menyadari sebuah pengertian hati yang sebenarnya. Hati yang bersih adalah hati yang terikat kepada Allah. Hati yang selalu bermuara kepada Allah. Hati yang bersih adalah hati yang mendesak pemiliknya untuk menjadi orang yang mampu kembali kepada Allah dan mampu mengimbangi kekuatan hatinya, keaktifannya, kesungguhannya, penghambaannya dan keimanannya.

"Allahumma laa takilnaa ilaa anfusinaa"
(Ya Allah janganlah Engkau serahkan kami pada diri kami sendiri."

Hari ini, tepat seminggu sebelum aku mencapai kepala dua. Aku mendapat sebuah pemahaman baru mengenai hati. Rasulullah pernah berkata "Ada segumpal daging di dalam tubuh manusia, yang apabila ia baik, maka baiklah keseluruhannya dan apabila ia buruk, maka buruklah keseluruhannya."
Segumpal daging yang dimaksud disana adalah.. hati. Jadi hati memiliki pengaruh besar atas apa yang kita lakukan. Hati yang membuat kita akhirnya bersikap seperti ini dan seperti itu. Hati pula lah sumber dari segala rasa yang ada. Baik itu rasa nyaman, tenang, adil, damai, sentausa, gelisah, takut, hampa, putus asa. Semua berasal dari hati kita.

Dari hati pula-lah pada akhirnya terimplementasi laku kita. Bagaimana kita bersikap, itu tergantung bagaimana hati kita.

Terimakasih untuk hari ini ya Allah. Engkau benar-benar menamparku seraya mengulurkan tangan-Mu. Engkau membuatku mengerti tentang apa yang salah pada diriku. Aku tahu Engkau tidak akan pernah membenturkan dua buah kebaikan. Maka disitulah aku bersyukur karena Engkau mengingatkanku.
Lewat beberapa kejadian hari ini. Aku akan belajar untuk berbenah. Tentu dengan bantuan-Mu ya Rabb. Jangan pernah tinggalkan aku.

Karena Engkaulah sebaik-baik tempat berlindung:")

24-05-15
2:32 dini hari

Saturday, May 9, 2015

Grup di Sosial Media?


Pernah gak sih ngerasain mumet dan pusing melihat handhone? Sampai cuma cek line atau whatsapp, lihat notifnya, scroll aja ga dibuka pesannya? Jujur deh... fenomena seperti ini banyak dialami di zaman dimana zaman sudah berubah. Dimana kecanggihan tekhnologi dengan mudah membuat orang yang berada di belahan dunia manapun bisa berkumpul dalam suatu wadah di sosial media. Ya, di era smartphone sudah menyentuh berbagai kalangan baik tua, muda, miskin kaya.

Di era smartphone yang sudah sangat hits ini, sangat memudahkan untuk diskusi atau membicarakan sesuatu yang tidak selesai dibicarakan saat bertemu langsung. Fenomenanya, hampir di semua kondisi dibuat grup-grup kecil untuk berdiskusi. Hingga pada akhirnya banyak grup bertumpuk di line atau whatsapp. Efeknya, waktu-waktu yang harusnya kita gunakan untuk beristirahat, justru tersita dengan mengecek satu persatu grup yang ada. "Takut ketinggalan info" itu alasannya.

Di sisi lain, jika sudah mumet dan pusing melihat handphone, bisa jadi muncul rasa ketidakpedulian terhadap grup yang ada. Ada dua kemungkinan, dia hanya membuka pesan tanpa membacanya atau membiarkan pesan itu bertumpuk di hpnya sampai beberapa waktu. Efek yang ditimbulkan karena hal ini, bisa membuat kita tidak tahu keadaan yang ada sehingga pada waktu yang diperlukan justru kita tidak muncul, membuat orang lain kecewa karena kita tidak merespon atau bisa jadi muncul perkelahian karena dianggap kita berlepas tanggungjawab atas apa yang kita kerjakan.

 Hal-hal seperti diatas memang marak terjadi. Pasalnya, kita seperti dituntut untuk mengecek hp setiap saat agar kita bisa efektif memanfaatkan smartphone kita. Tapi di sisi lain, kita juga memiliki kehidupan nyata yang perlu diurus. Jadi, serba salah rasanya. Semua kembali lagi, kita yang berhak menentukan kehidupan kita. Mau kita update terus tapi kita ansos di lingkungan sekitar kita, sampai kalau dipanggil ga nyahut, kalau diajak ngobrol ga nyambung. Atau kita mau ansos di sosial media yang jadi gatau updatean terbaru? Atau mau menyeimbangkan semuanya?

Kita hanya perlu memanajemen waktu kita untuk berinteraksi dengan smartphone kita. Harus mulai diatur pesan mana saja yang perlu untuk dibalas. Pesan mana saja yang cukup kita baca sekilas saja. Atau di grup mana kita harus intens di dalamnya. Belajar dari beberapa grup yang saya miliki, jadi kita memiliki waktu-waktu khusus untuk berdiskusi. Misalnya hari Sabtu malam jam 20.00 sampai jam 22.00. Efektifkan waktu-waktu itu untuk benar-benar total di dalamnya, membahas masalah acara atau tugas kampus. Lalu setelah itu kita harus kembali ke dunia nyata kita, mengerjakan tugas lain yang perlu diselesaikan. Jangan justru keasyikan chat sehingga tuga lainnya terbengkalai atau mengerjakan asal-asalan karena menjelang deadline.

Ingat kembali apa tujuan menggunakan smartphone, memudahkan kita kan? Bukan justru menyulitkan kita. Jadi, manfaatkan smartphone dengan teknik tepat guna. Gunakan ia pada saat yang tepat dan berikan batasan waktu. Jaga kesehatan, jangan tidur terlalu larut karena asyik dengan handphone kita. Tubuh kita berhak istirahat dari kejemuan melihat layar handphone.

Karena kita, adalah calon-calon  pemimpin yang harus belajar mengefektifkan waktu dan tekhnologi sedari dini. Semangat berkarya di zaman yang cukup menggerakkan jemari lalu kau kuasai dunia!

10 Mei 2015
Menjelang siang hari,
Silmy Kaaffah




Sunday, May 3, 2015

Pemuda Indonesia, Belajar dari Eyang Habibie


padamu ibu pertiwi, padamu pahlawan,
padamu pejuang yang dikenal atau tidak dikenal
terimalah persembahan kami, generasi penerus
karya kami teknologi canggih umat manusia,
kami kuasai, kami miliki, kami kembangkan, kami kendalikan
mandiri untukmu, Ibu Pertiwi
semangat, tekad, tak kenal lelah dan tak kenal menyerah
semangatmu pejuang bangsa Indonesia dan di alam baka
kami lanjutkan sepanjang masa..


Puisi diatas merupakan puisi pembuka yang Pak Habibie bacakan di depan ribuan pemuda-pemudi calon penerus bangsa di Balairung UI, 29 April 2015.

Merupakan sebuah kehormatan bagi saya bisa mendengarkan secara langsung apa yang Bapak Habibie sampaikan. Dengan gaya bicaranya, dengan lantang dan yakin membacakan puisi yang dibuat hampir dua puluh tahun lalu. Saat itu, ia sedang berdebar. pasalnya, puisi itu ia buat satu jam sebelum pesawat N250 resmi diluncurkan. Di tahun yang sama, nyatanya Indonesia sudah mampu untuk menghasilkan karya yang membanggakan, ada kapal-kapal canggih produksi PT PAL serta lokomotif yang dibuat oleh PT INKA.

Hal ini menunjukkan bahwa kita, sebagai anak negeri, perlu bangga bahwa Indonesia dapat menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat hingga hari ini. Bahwa sejatinya, Indonesia merupakan bangsa yang pintar, yang bisa bekerja keras dan mampu untuk menjadi bangsa yang mandiri. So, don't worry. Bangsa kita punya banyak orang pintar. Hanya bagaimana membuat orang-orang pintar itu tersadarkan bahwa negeri ini butuh mereka.

Dewasa ini, kondisi negeri kita memang dikatakan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Perekonomian dan perpolitikan yang tidak stabil berdampak pada banyak hal seperti tidak terpenuhinya kebuthan pangan, angka kesehatan yang rendah, berubah-ubahnya sistem kurikulum pendidikan, konflik antar ras dan angama, dan berbagai masalah lain yang sesungguhnya hanya soal bagaimana mengelola diri.
Jika bukan anak bangsa, siapa lagi yang akan membangun bangsanya?  Jiwa muda, merupakan jiwa yang tidak mau kalah dan tahan atas kelelahan. Jiwa muda selalu bersemangat melaksanakan perubahan. Perubahan yang memberikan kesejahteraan bagi bangsanya.
-Eyang Habibie
Melihat kondisi demikian, saya tersadarkan kembali untuk ikut andil dalam membereskan permasalahan di negeri ini. Benar sekali kata Eyang, bahwa perubahan merupakan kunci dari kesejahteraan. Dengan adanya perubahan, otomatis akan ada pergerakan. pergerakan yang akan memicu adanya perpindahan dari hal-hal buruk menjadi hal-hal baik. Maka, lakukan perubahan sekecil apapun itu.

Namun, perubahan yang dilakukan harus pula melaui tahapan-tahapan perhitungan. harus benar-benar diperhitungkan, bukan asal susun rencana lalu selesai. Jika kita adalah seorang insinyur, jangan kita hanya fokus pada dunia per-engineering-annya saja. Tapi masukilah dunia lain seperti perekonomian, hukum dan kesehatan. Begitu pula untuk bidang lain, jika kita seorang ekonomi jangan segan-segan ikut andil dalam permasalahan kesehatan, sosial dan teknologi. Jadi, intinya kita harus bekerjasama, bahu-membahu menuju satu tujuan, yaitu Indonesia yang lebih baik.

Sebagai pemuda, kita merupakan tombak perjuangan bangsa. Eyang Habibi terlihat sumringah sekali saat melihat begitu banyak orang yang peduli kepada nasib bangsa ini. "Dahulu, orang yang memikirkan bangsa Indonesia, satu bus saja tidak penuh jumlahnya. Namun hari ini, disini, saya bisa melihat ada ribuan orang yang masih mau memikirkan nasib bangsanya. Sungguh, saya bangga dan percaya Indonesia akan lebih baik."

Bukti konkret kepedulian kita, kita harus menjadi manusia yang produktif. Produktivitas seseorang bergantung pada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan tekhnologi. Yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat luas, yang bisa diterima oleh bangsa kita. Kita harus menjadi bibit-bibit unggul yang mampu menunjukkan kualitas kita dihadapan dunia. Membawa nama baik Indonesia, bukan lagi membawa nama suku, ras, dan daerah. Bersatu untuk membentuk Indonesia menjadi bangsa yang memiliki eksistensi tinggi dan madani.

Maka, jangan pesimis untuk menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang memiliki harga diri tinggi. Selalu ada harapan, cita-cita dan dukungan dari pejuang Indonesia terdahulu, yang mungkin belum bisa mewujudkannya. Kita lah yang bertugas untuk melanjutkan estafet perjuangan mereka. Jangan biarkan perjuangan mereka menjadi bias karena kita. Eyang Habibie, di usianya yang ke-79 berkata bahwa tidak ada kata pensiun buatnya, ia hanya akan pesiun saat menghembuskan napas terakhir. Saya baru akan tenang jika saya bisa melihat anak cucu saya tenang dan bahagia di negeri ini. Jangan kecewakan mereka karena kemalasan kita.

Tidak ada makan siang yang diberikan cuma-cuma, sama halnya dengan kemerdekaan kita. Kita juga harus membayar untuk mendapatkan kemeredekaan kita kembali bukan?
Karena ketika kondisi dan keadaan yang kita miliki tidak mendukung, tidak ada jalan lain selain tegak berdiri, melewatinya dengan semangat perjuangan dan hati yang lapang.
Kerikil yang ada bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk dilewati. Akan ada masa dimana kerikil itu tidak akan lagi menjadi penghalang kita.
Belajarlah membangun negeri, dengan cara-cara sederhana.
dengan hal-hal yang bisa kita upayakan
Belajar dengan tekun di bidang yang kita jalani,
totalitaslah dalam berkarya
serta, miliki rasa peduli pada bangsa ini.

Dari saya yang sungguh jatuh cinta pada pemikiranmu Eyang,
Semoga Eyang selalu diberikan kesehatan dan keberkahan hingga di akhirnya.

Cucumu,
Silmy Kaaffah
FKM UI 2014.



Saturday, April 25, 2015

Embah Putri

Jika kita berbicara tentang kehidupan, kita berbicara tentang masa kini dan masa depan, kadang juga masa lalu.

Sepertinya, di tahun 2014-2015, bukan lagi membicarakan. Namun belajar secara langsung mengenai kehidupan. bahwa takdir bisa berubah kapan saja, bahwa tiada yang abadi di kehidupan ini, bahwa kebahagiaan bisa serta merta berubah jadi kesedihan, bahwa banyak hal yang tidak dapat kita terka bagaimana kedepannya.

 Lima puluh hari setelah kepergian embah putri. Siti Komariyah.
Saat itu, aku selesai presentasi untuk mata kuliah MPKT B. Presentasi yang cukup menguras tenaga dan hati. Saat itu, pukul 14.00 aku mengecek hpku. Ada 8 miscall masuk dan 3 sms. Isinya, "Silmy, tolong ke pondok kelapa. Mbah Uti masuk ICU, tolong jagain mbah kakung ya."
Seketika, jantung ini yang tadinya dilanda kekesalah berubah menjadi berdebar tak tentu, aku izin keluar kelas. mencari fakta yang terjadi. Why? Kok bisa? Mbah Uti?

Aku mendapat kejelasan dari Bude Dewi, katanya gula darah mbah uti melonjak tajam jadi 400. Padahal mbah uti diabetes. Dikirimi foto mbah sedang tertidur di rumah sakit. Ya Allah. Seketika, ku ubah semua jadwalku. Rapat, syuro, kepanitiaan, tugas, ku tinggalkan semua.

Aku melaju menuju pondok kelapa, rumah embah yang selama ini menjadi tempat bermukim sementara saat aku sedang kelelahan,
rumah dimana aku bisa beristirahat dengan nyaman,
rumah dimana aku biasa bertemu dengan orangtua yang kesepian,
rumah dimana aku biasa berbincang-bincang mengenai perjalanan.
Rumah dimana aku selalu ditanya "Udah makan belum silmy?" padahal baru setengah jam lalu embah uti menyuguhkan bubur ayam kepadaku.
Rumah dimana saat aku datang lalu ditawari coffe mix kesukaanku.
Rumah dimana saat Ramadhan setidaknya aku menghabiskan waktu 3 hari disana.
Rumah yang selalu dikunjungi saat lebaran haji dan lebaran ramadhan.
Rumah dimana aku bisa menonton tv lama.
Rumah dimana aku merasa waktu berjalan cepat.
Rumah dimana aku lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Rumah kasih sayang dua orang tua yang sudah lanjut usianya.

Aku sampai disana pukul 18.37. Saat itu ku lihat ambulans sudah berada di depan rumah. Yang ku pikir adalah "Wah embah udah sembuh ya... udah bisa pulang ke rumah."
Namun kenyataan yang ada sebaliknya. Saat aku masuk ke pintu, sesosok jenazah ditutupi kain batik coklat terbaring. Ya Rabb, ada apa ini? Aku masuk dan sesenggukan. Ternyata, ini waktu yang telah dijanjikan untuk embah putri. waktu akhir hidupnya. Ku buka kain batik itu, wajah itu, masih wajah mbah utiku. Seperti orang tertidur, hanya bibirnya agak pucat.
Ku tatap wajahnya lamat-lamat, ia masih menggunakan kerudung merah. namun tak ada tarikan nafas di dadanya. kakinya pun dingin. embah, cepat sekali engkau pergi.
Beberapa jam kemudian orang melayat datang silih berganti. Adikku yang ada di solo dan di serpong di kabari. Mereka berangkat malam ini dan esok pagi. Puluhan atua bahkan ratusan tetangga datang, menyatakan duka cita. bercerita bagaimana embah hari minggu sebelumnya meminta maaf, bagaimana embah menghadiri acara lansia dengan wajah yang berbeda. bagaimana secepat ini, tanpa tanda-tanda.
Hari minggu sebelumnya, aku sedang sendirian dirumah. tiba-tiba telepon berdering, embah uti ternyata. beliau berkata "Silmy, hati-hati ya embah abis nonton di tv sekarang banyak orang jahat. Jangan pulang malam-malam ya." ku jawab "Iya embah. Embah udah makan belum?" "Udah tadi, pake bubur ayam. Silmy?" "Udah juga mbah, tadi pake nasi uduk. hehe." "Yaudah kalo gitu.. udah ya. Assalamualaikum." ku jawab "Waalaikumsalam."
ternyata, itu percakapan terakhirku dengan embah. Dan saat itu, embah yang sudah lanjut usianya, menelepon sampai dua kali. mengingatkan hal yang sama. Embah.. aku kangen.

Malam menjelang, lewat tengah malam, rumah embah masih ramai. Ada hampa menerpa dada di keramaian ini. Terkadang, kita merasa sepi padahal di sekeliling kita ramai. Aku membaca hafalanku, yang masih belum genap satu juz. aku hanya ingin embah mendengar, cucunya sedang menghafal Al-Qur'an loh. aku sering minta di doakan supaya semuanya lancar. Dan embah pasti selalu menjawab "Iya, embah selalu berdoa yang terbaik untuk cucu-cucu embah." Ku ingat bagaimana senangnya embah saat tahu aku, nida dan fika sama-sama mendapat kuliah tahun ini. Bagaimana embah bersyukur karena ketiga cucunya, ketiga gadisnya bisa melanjutkan studinya lebih tinggi.

Pagi hari, wajah embah semakin pucat, aku mencoba memeluknya, pelukan yang tak akan lagi dapat ku lakukan. Embah, semoga embah baik-baik disana, dilapangkan kuburnya, diterima segala amalannya. Aku membantu memandikan.
Saat itu aku benar-benar belajar bahwa siapa sih kita? apa yang bisa kita sombongkan jika untuk mandi saja kita tak mampu di suatu hari nanti? bahkan untuk sholat saja harus disholatkan?
Lalu dikafani, lalu proses berpamitan. satu persatu, anak-anaknya mencium. diikuti menantu dan cucunya. hanya mbah kakung yang tidak mencium karena masih sakit dan terbaring di kasur.

Dan itu adalah pertemuan terakhirku dengan embah putri. pertemuan terakhir di dunia. namun insyaAllah bertemu kembali di surga. Aamiin.


Some condition has changed. Dunia seakan berputar seratus delapan puluh derajat untuk embah kakung. Tadinya, selalu ada embah uti yang sedia untuk dipanggil saat butuh sesuatu. embah kakungku sakit, bonggol tulang pahanya remuk akibat jatuh. sehingga ia menghabiskan waktunya di tempat tidur. Meski tak jarang aku melihat mereka ribut karena hal-hal kecil, kadang mereka mengeraskan masing-masing suaranya. namun, nyatanya, pasangan yang sudah lebih dari lima puluh tahun menjalani bahtera rumah tangga dengan berbagai macam kondisi, merasa kehilangan separuh jiwanya juga.

Usai pemakaman, raut wajah embah kakung biasa saja, tak tampak rasa kesedihan. namun, semua bermula saat perlahan orang-orang (re: keluargaku) mulai kembali ke kehidupannya masing-masing setelah berkumpul melihat embah uti untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang tadinya lebih sering diisi berdua itu, kosong. sunyi. sendiri. Ummi terkadang bolak-balik kesana. namun tetap berbeda rasanya. hingga akhirnya embah kakung dibawa ke rumahku.

Bukan sekali dua kali embah kakung berteriak memanggil "Bu... Bu.." itu adalah panggilan embah kakung untuk embah uti. Iya, itu, begitu. Saat ku hampiri, dan ku jawab "Mbah, mbah uti kan udah ngga ada.." lalu ia istighfar. "Embah lupa silmy.."

Tiba-tiba saja hatiku teriris. Iya, meski selama ini mereka terlihat kurang harmonis, namun saat akhirnya maut yang memisahkan, jauh di lubuk hati embah kakung terdalam, ia sangat mencintai embah uti. pikirannya melayang saat muda dulu, saat awal membangun rumah tangga. Ya Allah, aku jadi terenyuh.

Iya, embah uti. Aku kangen. Kangen sekali. Aku kangen dipeluk embah. Aku kangen embah tanyain udah makan atau belum. Aku kangen dinasihatin sama embah. Ngga nyangka lebaran tahun ini embah udah ga bareng lagi.. engga nyangka:" Semoga embah baik-baik aja yaa mbah. semoga disana embah bisa jauh lebih menikmati hari-harinya, seperti saat bagaimana embah tersenyum di terakhir kalinya.

"Ketahuilah, bahwa kehilangan akan selalu memberikan dampak. Baik itu terlihat atau tidak. Baik itu sebentar atau lama dan Baik itu bermakna atau tidak."

Ya Rabb, jagalah embah.
Rabbighfirli wali wali dayya warham humaa kamaa rabbayani shoghiro. Aamiin,

Salam cinta dari cucu pertamamu,
Silmy Kaaffah

Thursday, April 9, 2015

Saya Disini Karena..

Hidup dengan kumpulan kepentingan itu memang kadang melelahkan
Ada waktu dimana kita merasa lelah. Ada waktu dimana terjadi senggol bacok saat kita merasa kita yang paling banyak bekerja. Ada juga waktu dimana kita baper, semua orang rasanya salah. cuma kita yang benar

Dan ada saat-saat mengesalkan lainnya.
Begitulah hidup. Apalagi jika hidup dalam lingkungan dimana rasanya semua memberikan tekanan yang sama-sama berat dan sulit dipilih. Dalam sebuah organisasi, tentu tidak semua orang memiliki karakter yang sama dengan kita karena kita berasal dari berbagai macam latar belakang dan kondisi.

Mungkin terkadang, ingin rasanya berkata "Sudah cukup, sampai disini saja." atau "Yasudahlah, lebih baik saya selesai saja."

Tapi, inget lagi bro, kenapa kamu memilih untuk menerima amanah, jika akhirnya kamu menyerah di tengah jalan? Cukup selesaikan apa yang telah kamu pilih, bertanggungjawablah atas apa yang telah kamu iyakan kepada orang lain.

Ingat, kenapa bisa sampai sejauh ini? apa aja yang sudah didapatkan?
Kembalikan niat dan tujuanmu disini. kita bergerak berdasarkan tujuan. tanpa tujuan, untuk apa kita disini.
Tujuan itu yang pada akhirnya akan menjadi alasan dan penguat untuk tetap bertahan.

Saya disini, karena saya ingin memberikan kebermanfaatan.
Saya disini, karena jasa-jasa orang sebelum saya yang tak akan pernah impas terbayarkan meski saya telah berbuat banyak
Saya disini, karena panggilan hati
Saya disini karena ingin melanjutkan estafet perjuangan, atau
Saya disini, karena cinta.

Akan ada banyak alasan untuk bertahan. Lalu mengapa memilih meninggalkan?

Buat kamu yang mungkin merasa lelah,
yuk refleksikan diri kembali.

Friday, April 3, 2015

Gini ya Kuliah..



Bismillahirrohmanirrohim.
Halo. Sekarang baru tau rasanya jadi anak kuliah beneran. wkwk. sekarang jadi tau alesannya kenapa kalo lagi ngepoin blog temen-temenku mereka jarang ngepos. Kuliah sibuk ya bro:")

Aku masih bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mencicipi bangku perkuliahan. Meski kadang banyak ngeluhnya, belum benar-benar memanfaatkan waktu kuliah dengan baik. Tapi, pernyataanku beberapa bulan yang lalu bahwa "Kuliah itu menaikkan kapasitas hidup kita." itu benar sekali.
Disini, jadi tau kalo peran mahasiswa bukan cuma belajar aja. tapi juga ada bagian pengabdian masyarakatnya.
Jadi tau kalo presentasi yang baik itu harus lebih banyak gambarnya daripada tulisan. Harus berbicara kepada audiensi dengan kata-kata baku dan jelas.
Jadi tau kalo komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting (matkul RIK banget)
Jadi tau kalo bahasa inggris itu kudu wajib dan harus bisa supaya memudahkan semuanya
Jadi tau kalo kita bisa loh bikin penelitian dan program kreativitas mahasiswa lainnya
Jadi ngeh kalo ilmu itu gakakan pernah abis, ilmu yg kita punya cuma secuil dari air di lautan
Jadi berasa kalo jadi organisatoris itu harus bener-bener profesional.
Jadi tau kalo kita punya cara masing-masing dalam menjalani hidup
Dan jadi tau lainnya yang gatau bakal kelar kapan kalo ga dibahas sekarang. wkwk

No Pain, No gain.
Gakada perubahan kalo ga ada yang ngerasain tempaan yang menyakitkan.

Kadang, yang memusingkan dan menyibukkan itu yang akan dirindukan.

Salam rindu dari depok.

*postingan yang tertunda akibat koneksi internet*

Sunday, March 1, 2015

Bismillahirrohmanirrohim.
Halo selamat malam. Beberapa hari ini, aku sedang memikirkan kalimat seorang sahabatku, dia berkata “Ngarepin orang-orang peduli sama 14 tapi sendirinya ngasih waktu sisa ke 14.”
Saat chat darinya masuk ke hpku, tetiba saja aku  gemetar. Ya Rabb, dosa besar hamba-Mu ini. Kita sering berbincang mengenai 14. Kita berbicara dari a-z. Dari hal-hal penting sampai tidak penting. Tentang perkembangannya, tentang keislamannya, tentang sikap anak-anaknya, mengenang masa lalu dan lain-lain.
Terkadang, hanya sedih ketika teman-teman lain yang dulu sama-sama berjuang di organisasi ketika kelas 11, hari ini aku kehilangan jejaknya. Meninggalkan 14 yang sebetulnya membutuhkannya. Entahlah, setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Setiap orang punya prioritas masing-masing. Namun, agak sedikit luka saja ketika akhirnya yang aku temui dia lagi, dia lagi. Hingga rasanya bosan. Atau yang kita kerjakan begitu melelahkan,  tapi outputnya tidak seberapa atau bahkan ada yang tidak menyukainya. Atau bahkan rasanya seperti bekerja sendirian tanpa teman. Pada akhirnya aku hanya duduk sedih, ya Rabb… 14 kini berada di tangan kami sebagai alumninya.
Kembali lagi, chatnya kembali memutar otakku. Kenapa kamu harus bersedih ketika Allah sudah memberikan janji yang tak akan pernah Ia ingkari? Dan pertanyaan besar lainnya adalah, kamu udah ngapain aja sih sil sampe bisa sedih gitu? Miris rasanya hati ini jika melihat kembali beberapa bulan yang lalu.
Aku, iya aku yang masih lebih sibuk dengan kegiatan-kegiatan di FKM.
Aku, yang pernah izin tidak mengisi karena ada acara di FKM.
Aku, yang pernah tidak hadir acara faris dengan alas an kelelahan.
Aku, yang belum sering mengobrol dengan para pengurus osis, rohis dan mpk
Aku, yang bahkan belum memberikan kontribusi apa-apa, tapi berani sekali menuntut orang untuk peduli kepada 14. Aku yang bahkan seminggu sekali juga belum tentu ke 14 berani sekali memprotes kebijakan qiyadah-qiyadah diatas. Aku, yang masih kadang lalai membaca atau sekadar ikut berdiskusi di grup, berani sekali membandingkan angkatanku dengan angkatan sekarang, dahulu saat aku menjadi pengurus, alumni yang berada di belakangku adalah alumni-alumni yang luar biasa…. Dan kenapa aku begitu berani membandingkannya?
Duhai Rabb, pemilik alam.. pembolak-balik hati, pemberi karunia.. ampuni hamba-Mu yang masih lalai namun banyak menuntut ini ya Rabb.  Ya Rabb, sudikah Engkau memaafkan kesalahan hamba yang begitu besar ini? Masih pantaskah aku menjadi orang yang bertanggung jawab atas kalian, duhai adik-adikku? Ya, tapi Bismillah. InsyaAllah aku tidak akan berjalan mundur  teratur, izinkan hamba-Mu ini untuk berjalan kedepan dengan teratur.. dengan segala ke-apa adaan-nya ini utuk kembali berkaca dan memperbaiki diri.
Karena kejahatan yang teratur akan menang melawan kebaikan yang tidak teratur.
Maka, Bismillah kawan. Jangan sia-siakan amanah kita hari ini. Waktu yang kita gunakan untuk 14 InsyaAllah akan menajdi investasi masa depan yang akan membawa 14 kembali menjadi tempat yang hijau dan nyaman.
Dengan kembali meluruskan niat dan mengucap Basmallah…
InsyaAllah aku siap.

Kuatkanlah bahu ini ya Rab..