Tuesday, June 30, 2015

Moment dan Foto

Bismillah..

Aku baru liat-liat foto perjalanan dari zaman SMP sampe sekarang di facebook. Bahkan ada foto zaman SD yang ga sengaja nyelip. Ah iya, jika dihitung-hitung sudah lama rupanya ya dunia sosial media merebak di kehidupanku. Aku sudah hidup dua puluh tahun lamanya. Dan foto pertama yang ada di facebookku ada pada tahun 2009. Sudah enam tahun. Dibalik semua foto-foto itu, nyatanya ada sesuatu yang tersimpan.

Perjalanan.
Kata itu mungkin tepat menggambarkan seorang yang sedang berjalan meniti kehidupan.
Di mulai dari saat bayi, masuk ke balita, SD, SMP, SMA hingga kuliah.

Selalu menyenangkan melihat foto-foto zaman dahulu, seakan-akan menghadirkan memori saat waktu lalu.

Satu tahun lalu, ada banyak foto aku bersama pejuang ronin. pejuang calon anak FK yang gagal kecuali frizka dan netty. Ada foto saat kita berkunjung ke UI untuk torsion, saat event doa bersama, saat perayaan ulangtahunku, saat kita makan bersama. Ah, bukankah terlalu banyak momen yang kita lalui gengs? Kalian masih baik-baik aja kan? udah bahagia kan dengan apa yang kalian jalani hari ini? Salam kangen belajar sbmptn bareng luar biasa buat kalian, netty frizka ilo vina hanifa<3 br="">

Dua tahun kebelakang aku masih menemukan foto saat doa bersama di mabit. ku pandangi wajah-wajah kita dahulu, aku... masih kurus. hahaha. wajah-wajah yang dulu sama-sama berjuang menuntut ilmu, ku komparasikan dengan hari ini. Ada temanku yang sudah jadi orang penting di fakultas didekat mui, ada juga calon kuat fusi fakultas biru, ada yang sudah nunjauh dimata, ada yang di kota hujan, dan segala yang dulu mungkin kita mimpikan akhirnya terwujud, mungkin tidak persis. namun secara garis besar 'iya' perjuangan mendapatkan jurusan impian menghasilkan perjuangan di kampusnya masing-masing. Ah, aku hanya rindu kita berkumpul bersama.

Selain itu, ada foto saat aku dan cecen sedang main ke 14 yang masih belum jadi. Itu momen dimana kita habis menjalani try out try out UN. Kita begitu merindukan kehadiran gedung pabrik roti yang lama itu. Dan kita bernostalgia bersama. Aku masih ingat, kita foto semua bagian dari mulai lantai 4 hingga masjid. Hari ini, 14 yang baru sudah berdiri dengan kokohnya.

Ada lagi foto zaman kelas 10. Aku jadi ingat saat aku menjadi kepala suku mereka. Ada banyak rasa bercampur, Disana aku bertemu Lady, seseorang luar biasa yang memiliki pikiran yang keren. Bertemu ukhti-ukhti macem himma intan dina nida. kita suka main ke rumah salah seorang untuk ngerandom gak jelas. Ada juga saat pergi ke ragunan, saat itu saya merasa sedih menjadi ketua kelas yang masih kurang baik. Selain itu ada foto piala kita, piala juara II APSI saat masa MOPDB. Dengan aksi alam, eki, arga yang ga punya malu kita berhasil menang. Aku jadi kembali ingat saat kelas XC memenangkan juara 1 Lomba kasti antar kelas. aku sungguh bangga, dan rasa rindu itu muncul lagi. Hari ini, teman-teman XC ku sudah memiliki kehidupan masing-masing. Ada yang di bandung, solo, jakarta, depok dsb. Jika ada kesempatan, ingin rasanya kembali bercerita:"

Lalu, ada foto keluarga saat acara rutin tahunan diadakan. yaitu menginap di villa bersama keluarga besar abi. Foto-fotoku masih alay, bersanding dengan sepupu-sepupuku. tentu resolusinya kurang bagus.  namun momen berharganya itu yang akhirnya membuat aku mengingat kejadian-kejadian kecil seperti games-games saat acara puncak, menyuapi aba sebelum meninggal, saling membully, berenang bersama. Ah, ini rasanya punya keluarga yang sangat besar.

Dan ada momen saat aku SMP, jalan-jalan sama Iqoh dan Meidha. ke Ragunan, foto-foto random. masih pake celana-,- haha. waktu itu H+ berapa UN gitu, kita dari 41 jalan sampe ragunan. teruuus bersenang-senang, main kartu, makan bekal bersama dan foto-foto. bersenang-senang sederhana ala anak SMP. Ada pula foto jaman kita lagi mabok belajar buat UN di musholla yang waktu itu dicetak di pasar minggu. foto pertama kali ada jerawat muncul. jerawat stress. Haha. Hari ini, Iqoh sudah sibuk di STIS dan meidha di farmasi serta fatim di sekolah desain.

Serta momen SD. Ada fotoku sedang jalan-jalan di boscha bersama sumayah. Mukaku masih putih sekali saat itu, belum terpapar banyak matahari mungkin yaa. Ada lagi foto saat penampilan pensi di mandiri camp. itu antara kelas 4 atau 5. hahaha. lucunya~

Melihat foto masa lalu sama saja merangkai ulang kisah yang pernah dilewati. Mengingat kembali kenangan-kenangan yang ada seraya bersyukur bahwa ternyata Allah memberikan perjalanan hidup yang sesungguhnya sangat indah. Sebelumnya, di tahun 2010 aku tidak pernah membayangkan bagaimana bentukku saat aku mencapai tahun 2015. Namun 5 tahun berlalu nyatanya banyak sekali perubahan yang terjadi. Banyak pemahaman-pemahaman hidup baru yang aku petik. banyak sekali pelajaran dan tempaan yang mau tak mau harus dilewati. Dan semestinya banyak syukur yang patut diucapkan kepada Zat yang Maha Memiliki, Maha Kuat, Maha Penyayang. Zat yang akan selalu membimbing hambaNya untuk mengaktualisasikan diri menjadi lebih baik lagi.

Sungguh, benar sekali firmannya di surat Ar-Rahman "Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?"

Maka, hari ini jika masih banyak hal yang mengganjal. Masih banyak hal yang kita hujat sebagai ujian dan penderitaan. Jika masih ada hal yang pernah kita sesali.. Percayalah bahwa itu merupakan penggalan dari kehidupan kita. Selain percaya, kita memilki tanggungjawab lebih, yaitu belajar dari yang ada. belajar dari kesalahan-kesalahan. belajar memperbaiki.

Semoga momen-momen yang kita lewati pada akhirnya akan membuat kita semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta. Aamiin.

Ramadhan hari ke13:)

Saturday, June 27, 2015

Bismillahirrohmanirrohim.

Halo, apa kabar?
Kemarin, baru saja menyaksikan dua orang kakak yang baru saja selesai sidang. Selesai S1.
Lega? Pasti.
Senang? Iya, perjuangannya ga tidur-tidur berbuah manis.
Haru? Sangat, bisa mempersembahkan gelar sarjana kepada orangtua.

Ah iya, saat itu semua orang berbahagia. orang-orang akan berbondong-bondong memberi selamat, mengajak salaman, memberi pelukan hangat, memberi bunga. Indah bukan mendapat perhatian dari begitu banyak orang disekitar kita?

Tapi, dibalik itu semua, aku gemetar.
Sebuah pertanyaan besar akan muncul, setelah ini mau apa?
Pertanyaan singkat namun menggelitik hati terdalam.
Sangat baik ketika akhirnya kita sudah memiliki plan hidup yang sudah matang. Kita akan tau mau kemana kita setelah melalui jenjang perguruan tinggi ini. empat tahun menjalani hari sebagai mahasiswa, dengan berbagai idealisme yang dimiliki, dengan berbagai paparan informasi baru, dengan pemahaman yang pada akhirnya kembali ke diri masing-masing.
empat tahun bukan waktu yang sebentar, menjalani hidup bersama teman-teman. Namun pada akhirnya kita akan kembali kepada kenyataan hidup bahwa kita memiliki jalan cerita masing-masing. Kita yang akan menyusun jalan cerita kita sendiri. Apa mau S2. kerja diperusahaan atau rumah sakit atau di departemen kesehatan, membuka usaha, menjadi ibu rumah tangga, menjadi asdos dan beragam kemungkinan-kemungkinan lain yang selalu ada konsekuensinya.

Ah, iya bukankah terbukti sudah waktu begitu cepat berjalan tanpa bisa kita cegah untuk sekadar berhenti beberapa detik?

Ah iya, hari ini aku baru masuk ke semster tiga. lalu, dua tahun lagi teman-tema SMA ku sudah akan lebih dulu lulus, di wisuda. Selanjutnya, dalam jangka waktu tiga tahun kedepan (insyaAllah) aku juga akan di wisuda. Lulus dari universitas. Lalu, kamu mau apa?

Entahlah, aku juga masih akan menerka-nerka seraya berusaha merencanakan sebaik mungkin. Kemarin juga, aku sempat berdiskusi dengan seorang teman. Katanya dia setelah lulus ingin jadi dosen atau buka usaha, dia gamau kerja di kantoran padahal jurusannya ekonomi. Dengan menjadi dosen atau membuka usaha, menurutnya, kita akan lebih bisa mengatur waktu kita sendiri. Gak kaya kerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam, "Nyari duit sampe kaya gitu ya, kalo aku mah yang penting kaya gini, udah cukup.." Aku suka statmentnya.

So, what do you want? Semoga papan mimpinya segera jadi ya:)

Karena saat ada ribuan orang yang pergi, akan ada ribuan orang yang datang.

btw di asrama aku tinggal menghitung hari loh. Dari yang H-60an sampe sekarang H-7. dari bulan september sampe bulan juli tinggal bareng sama orang macem mereka. Ah Allah, Engkau selalu memberikan banyak pelajaran diantara potongan hidup ini. Meskipun aku suka dibully, tapi aku sudah belajar bagaimana cara membully sekarang. wkwk. maafkan segala khilafku yah teman-teman dan kakak-kakak. Sesungguhnya aku menyayangi kalian apa adanya. bakal kangen banget sama celoteh dan ledekan tentang nikah setelah buka puasa ini, ledekan uda-uni, mas-mbak, ledekan tentang kaburo maqtan, ledekan tentang ceplas-ceplos, tentang tes juz yang ga kelar-kelar, tentang pembicaraan serius kita. Iya, bakal kangen. Terimakasih sudah menjadi salah satu dari puzzle hidupku asrama sumayah:")

Semangat ber-Ramadhan ria:) semangat bertes juz ria:) semoga Allah memudahkan. Barakallah!

Wednesday, June 17, 2015

HALO RAMADHAN

Bismillahirrohmanirrohim.
Halo! Assalamualaikum. Hari ini udah masuk Ramadhan.
Iya Ramadhan.

Aku merasakan kebahagiaan yang berbeda pada Ramadhan tahun ini. Jika tahun lalu, saat hari pertama Ramadhan aku cenderung berharap mendapatkan kabar baik dari SBMPTN, tahun ini atas izin Allah aku bisa menjadi mahasiswa UI. Bukan menjadi anak UInya, tapi proses-proses yang terjadi selama setahun ini sungguh luar biasa:") aku tak pernah membayangkan jika akhirnya hari-hari yang ku lewati begitu berwarna. Ada kebahagiaan, kebeleran, kekesalan, tangisan, kelemahan, keberanian, keanggaan, haru biru, persaudaraan dan berbagai rasa yang mungkin tak dapat aku sebutkan satu persatu,

Menjadi bagian dari Indonesia Quran Foundation merupakan salah satu berkah yang tak terhingga. Sejujurnya di awal masuk asrama ini aku agak kurang niat. Tapi ternyata disini aku mendapat banyak pelajaran dan pemahaman yang tak ku sangka. Hari ini, tinggal 17 hari lagi bersama mereka. bersama anak-anak Sumayah dan Karimah.

Ya Allah, waktu begitu cepat berjalan. Aku selalu menitikkan air mata jika membaca rabithoh dengan sungguh-sungguh. Semoga doa-doa kita akan diijabah oleh Allah SWT.

Memasuki bulan pembinaan, membuat kita tidak bisa bersikap biasa-biasa saja. pahala berkali-kali lipat dijanjikan oleh-Nya. Semoga kita bisa sama-sama menjangkau Ridho-Nya. menatalaksanakan target-target yang kita buat. Menjaga kesucian niat dan hati kita dan semoga dilancarkan tes juznya.

Selain itu aku harus menjalani Semester Pendek. Haha, antara ambis atau apa ya~ dasar gizi dan kepemimpinan, please be mine! A ya Allah. hehe

Masih running OKK FKM juga... semoga diberikan kekuatan untuk merancang seminar yang terbaik buat dede-dede unyuuu.

Dua organiasasi di FKM sudah melaksanakan EPT dengan keren sekali. aku sangat menghargai setiap evaluasi yang ada. karena organisasi tanpa evaluasi akan mati. Ya, that's true. semoga bisa diperbaiki apa-apa yang harus diperbaiki.

Malam ini penuh dengan segala ke-semoga-an. anggap saja ini doa yah:")

Ramadhan, bersihan hati. Kuatkan niat.
Bismillahirrohmanirrohim.

Saturday, May 23, 2015

Pengertian Baru

Bismillahirrohmanirrohim.
Halo apa kabar hati? Semoga baik-baik saja ya. Karena hari ini aku baru menyadari sebuah pengertian hati yang sebenarnya. Hati yang bersih adalah hati yang terikat kepada Allah. Hati yang selalu bermuara kepada Allah. Hati yang bersih adalah hati yang mendesak pemiliknya untuk menjadi orang yang mampu kembali kepada Allah dan mampu mengimbangi kekuatan hatinya, keaktifannya, kesungguhannya, penghambaannya dan keimanannya.

"Allahumma laa takilnaa ilaa anfusinaa"
(Ya Allah janganlah Engkau serahkan kami pada diri kami sendiri."

Hari ini, tepat seminggu sebelum aku mencapai kepala dua. Aku mendapat sebuah pemahaman baru mengenai hati. Rasulullah pernah berkata "Ada segumpal daging di dalam tubuh manusia, yang apabila ia baik, maka baiklah keseluruhannya dan apabila ia buruk, maka buruklah keseluruhannya."
Segumpal daging yang dimaksud disana adalah.. hati. Jadi hati memiliki pengaruh besar atas apa yang kita lakukan. Hati yang membuat kita akhirnya bersikap seperti ini dan seperti itu. Hati pula lah sumber dari segala rasa yang ada. Baik itu rasa nyaman, tenang, adil, damai, sentausa, gelisah, takut, hampa, putus asa. Semua berasal dari hati kita.

Dari hati pula-lah pada akhirnya terimplementasi laku kita. Bagaimana kita bersikap, itu tergantung bagaimana hati kita.

Terimakasih untuk hari ini ya Allah. Engkau benar-benar menamparku seraya mengulurkan tangan-Mu. Engkau membuatku mengerti tentang apa yang salah pada diriku. Aku tahu Engkau tidak akan pernah membenturkan dua buah kebaikan. Maka disitulah aku bersyukur karena Engkau mengingatkanku.
Lewat beberapa kejadian hari ini. Aku akan belajar untuk berbenah. Tentu dengan bantuan-Mu ya Rabb. Jangan pernah tinggalkan aku.

Karena Engkaulah sebaik-baik tempat berlindung:")

24-05-15
2:32 dini hari

Saturday, May 9, 2015

Grup di Sosial Media?


Pernah gak sih ngerasain mumet dan pusing melihat handhone? Sampai cuma cek line atau whatsapp, lihat notifnya, scroll aja ga dibuka pesannya? Jujur deh... fenomena seperti ini banyak dialami di zaman dimana zaman sudah berubah. Dimana kecanggihan tekhnologi dengan mudah membuat orang yang berada di belahan dunia manapun bisa berkumpul dalam suatu wadah di sosial media. Ya, di era smartphone sudah menyentuh berbagai kalangan baik tua, muda, miskin kaya.

Di era smartphone yang sudah sangat hits ini, sangat memudahkan untuk diskusi atau membicarakan sesuatu yang tidak selesai dibicarakan saat bertemu langsung. Fenomenanya, hampir di semua kondisi dibuat grup-grup kecil untuk berdiskusi. Hingga pada akhirnya banyak grup bertumpuk di line atau whatsapp. Efeknya, waktu-waktu yang harusnya kita gunakan untuk beristirahat, justru tersita dengan mengecek satu persatu grup yang ada. "Takut ketinggalan info" itu alasannya.

Di sisi lain, jika sudah mumet dan pusing melihat handphone, bisa jadi muncul rasa ketidakpedulian terhadap grup yang ada. Ada dua kemungkinan, dia hanya membuka pesan tanpa membacanya atau membiarkan pesan itu bertumpuk di hpnya sampai beberapa waktu. Efek yang ditimbulkan karena hal ini, bisa membuat kita tidak tahu keadaan yang ada sehingga pada waktu yang diperlukan justru kita tidak muncul, membuat orang lain kecewa karena kita tidak merespon atau bisa jadi muncul perkelahian karena dianggap kita berlepas tanggungjawab atas apa yang kita kerjakan.

 Hal-hal seperti diatas memang marak terjadi. Pasalnya, kita seperti dituntut untuk mengecek hp setiap saat agar kita bisa efektif memanfaatkan smartphone kita. Tapi di sisi lain, kita juga memiliki kehidupan nyata yang perlu diurus. Jadi, serba salah rasanya. Semua kembali lagi, kita yang berhak menentukan kehidupan kita. Mau kita update terus tapi kita ansos di lingkungan sekitar kita, sampai kalau dipanggil ga nyahut, kalau diajak ngobrol ga nyambung. Atau kita mau ansos di sosial media yang jadi gatau updatean terbaru? Atau mau menyeimbangkan semuanya?

Kita hanya perlu memanajemen waktu kita untuk berinteraksi dengan smartphone kita. Harus mulai diatur pesan mana saja yang perlu untuk dibalas. Pesan mana saja yang cukup kita baca sekilas saja. Atau di grup mana kita harus intens di dalamnya. Belajar dari beberapa grup yang saya miliki, jadi kita memiliki waktu-waktu khusus untuk berdiskusi. Misalnya hari Sabtu malam jam 20.00 sampai jam 22.00. Efektifkan waktu-waktu itu untuk benar-benar total di dalamnya, membahas masalah acara atau tugas kampus. Lalu setelah itu kita harus kembali ke dunia nyata kita, mengerjakan tugas lain yang perlu diselesaikan. Jangan justru keasyikan chat sehingga tuga lainnya terbengkalai atau mengerjakan asal-asalan karena menjelang deadline.

Ingat kembali apa tujuan menggunakan smartphone, memudahkan kita kan? Bukan justru menyulitkan kita. Jadi, manfaatkan smartphone dengan teknik tepat guna. Gunakan ia pada saat yang tepat dan berikan batasan waktu. Jaga kesehatan, jangan tidur terlalu larut karena asyik dengan handphone kita. Tubuh kita berhak istirahat dari kejemuan melihat layar handphone.

Karena kita, adalah calon-calon  pemimpin yang harus belajar mengefektifkan waktu dan tekhnologi sedari dini. Semangat berkarya di zaman yang cukup menggerakkan jemari lalu kau kuasai dunia!

10 Mei 2015
Menjelang siang hari,
Silmy Kaaffah




Sunday, May 3, 2015

Pemuda Indonesia, Belajar dari Eyang Habibie


padamu ibu pertiwi, padamu pahlawan,
padamu pejuang yang dikenal atau tidak dikenal
terimalah persembahan kami, generasi penerus
karya kami teknologi canggih umat manusia,
kami kuasai, kami miliki, kami kembangkan, kami kendalikan
mandiri untukmu, Ibu Pertiwi
semangat, tekad, tak kenal lelah dan tak kenal menyerah
semangatmu pejuang bangsa Indonesia dan di alam baka
kami lanjutkan sepanjang masa..


Puisi diatas merupakan puisi pembuka yang Pak Habibie bacakan di depan ribuan pemuda-pemudi calon penerus bangsa di Balairung UI, 29 April 2015.

Merupakan sebuah kehormatan bagi saya bisa mendengarkan secara langsung apa yang Bapak Habibie sampaikan. Dengan gaya bicaranya, dengan lantang dan yakin membacakan puisi yang dibuat hampir dua puluh tahun lalu. Saat itu, ia sedang berdebar. pasalnya, puisi itu ia buat satu jam sebelum pesawat N250 resmi diluncurkan. Di tahun yang sama, nyatanya Indonesia sudah mampu untuk menghasilkan karya yang membanggakan, ada kapal-kapal canggih produksi PT PAL serta lokomotif yang dibuat oleh PT INKA.

Hal ini menunjukkan bahwa kita, sebagai anak negeri, perlu bangga bahwa Indonesia dapat menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat hingga hari ini. Bahwa sejatinya, Indonesia merupakan bangsa yang pintar, yang bisa bekerja keras dan mampu untuk menjadi bangsa yang mandiri. So, don't worry. Bangsa kita punya banyak orang pintar. Hanya bagaimana membuat orang-orang pintar itu tersadarkan bahwa negeri ini butuh mereka.

Dewasa ini, kondisi negeri kita memang dikatakan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Perekonomian dan perpolitikan yang tidak stabil berdampak pada banyak hal seperti tidak terpenuhinya kebuthan pangan, angka kesehatan yang rendah, berubah-ubahnya sistem kurikulum pendidikan, konflik antar ras dan angama, dan berbagai masalah lain yang sesungguhnya hanya soal bagaimana mengelola diri.
Jika bukan anak bangsa, siapa lagi yang akan membangun bangsanya?  Jiwa muda, merupakan jiwa yang tidak mau kalah dan tahan atas kelelahan. Jiwa muda selalu bersemangat melaksanakan perubahan. Perubahan yang memberikan kesejahteraan bagi bangsanya.
-Eyang Habibie
Melihat kondisi demikian, saya tersadarkan kembali untuk ikut andil dalam membereskan permasalahan di negeri ini. Benar sekali kata Eyang, bahwa perubahan merupakan kunci dari kesejahteraan. Dengan adanya perubahan, otomatis akan ada pergerakan. pergerakan yang akan memicu adanya perpindahan dari hal-hal buruk menjadi hal-hal baik. Maka, lakukan perubahan sekecil apapun itu.

Namun, perubahan yang dilakukan harus pula melaui tahapan-tahapan perhitungan. harus benar-benar diperhitungkan, bukan asal susun rencana lalu selesai. Jika kita adalah seorang insinyur, jangan kita hanya fokus pada dunia per-engineering-annya saja. Tapi masukilah dunia lain seperti perekonomian, hukum dan kesehatan. Begitu pula untuk bidang lain, jika kita seorang ekonomi jangan segan-segan ikut andil dalam permasalahan kesehatan, sosial dan teknologi. Jadi, intinya kita harus bekerjasama, bahu-membahu menuju satu tujuan, yaitu Indonesia yang lebih baik.

Sebagai pemuda, kita merupakan tombak perjuangan bangsa. Eyang Habibi terlihat sumringah sekali saat melihat begitu banyak orang yang peduli kepada nasib bangsa ini. "Dahulu, orang yang memikirkan bangsa Indonesia, satu bus saja tidak penuh jumlahnya. Namun hari ini, disini, saya bisa melihat ada ribuan orang yang masih mau memikirkan nasib bangsanya. Sungguh, saya bangga dan percaya Indonesia akan lebih baik."

Bukti konkret kepedulian kita, kita harus menjadi manusia yang produktif. Produktivitas seseorang bergantung pada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan tekhnologi. Yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat luas, yang bisa diterima oleh bangsa kita. Kita harus menjadi bibit-bibit unggul yang mampu menunjukkan kualitas kita dihadapan dunia. Membawa nama baik Indonesia, bukan lagi membawa nama suku, ras, dan daerah. Bersatu untuk membentuk Indonesia menjadi bangsa yang memiliki eksistensi tinggi dan madani.

Maka, jangan pesimis untuk menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang memiliki harga diri tinggi. Selalu ada harapan, cita-cita dan dukungan dari pejuang Indonesia terdahulu, yang mungkin belum bisa mewujudkannya. Kita lah yang bertugas untuk melanjutkan estafet perjuangan mereka. Jangan biarkan perjuangan mereka menjadi bias karena kita. Eyang Habibie, di usianya yang ke-79 berkata bahwa tidak ada kata pensiun buatnya, ia hanya akan pesiun saat menghembuskan napas terakhir. Saya baru akan tenang jika saya bisa melihat anak cucu saya tenang dan bahagia di negeri ini. Jangan kecewakan mereka karena kemalasan kita.

Tidak ada makan siang yang diberikan cuma-cuma, sama halnya dengan kemerdekaan kita. Kita juga harus membayar untuk mendapatkan kemeredekaan kita kembali bukan?
Karena ketika kondisi dan keadaan yang kita miliki tidak mendukung, tidak ada jalan lain selain tegak berdiri, melewatinya dengan semangat perjuangan dan hati yang lapang.
Kerikil yang ada bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk dilewati. Akan ada masa dimana kerikil itu tidak akan lagi menjadi penghalang kita.
Belajarlah membangun negeri, dengan cara-cara sederhana.
dengan hal-hal yang bisa kita upayakan
Belajar dengan tekun di bidang yang kita jalani,
totalitaslah dalam berkarya
serta, miliki rasa peduli pada bangsa ini.

Dari saya yang sungguh jatuh cinta pada pemikiranmu Eyang,
Semoga Eyang selalu diberikan kesehatan dan keberkahan hingga di akhirnya.

Cucumu,
Silmy Kaaffah
FKM UI 2014.



Saturday, April 25, 2015

Embah Putri

Jika kita berbicara tentang kehidupan, kita berbicara tentang masa kini dan masa depan, kadang juga masa lalu.

Sepertinya, di tahun 2014-2015, bukan lagi membicarakan. Namun belajar secara langsung mengenai kehidupan. bahwa takdir bisa berubah kapan saja, bahwa tiada yang abadi di kehidupan ini, bahwa kebahagiaan bisa serta merta berubah jadi kesedihan, bahwa banyak hal yang tidak dapat kita terka bagaimana kedepannya.

 Lima puluh hari setelah kepergian embah putri. Siti Komariyah.
Saat itu, aku selesai presentasi untuk mata kuliah MPKT B. Presentasi yang cukup menguras tenaga dan hati. Saat itu, pukul 14.00 aku mengecek hpku. Ada 8 miscall masuk dan 3 sms. Isinya, "Silmy, tolong ke pondok kelapa. Mbah Uti masuk ICU, tolong jagain mbah kakung ya."
Seketika, jantung ini yang tadinya dilanda kekesalah berubah menjadi berdebar tak tentu, aku izin keluar kelas. mencari fakta yang terjadi. Why? Kok bisa? Mbah Uti?

Aku mendapat kejelasan dari Bude Dewi, katanya gula darah mbah uti melonjak tajam jadi 400. Padahal mbah uti diabetes. Dikirimi foto mbah sedang tertidur di rumah sakit. Ya Allah. Seketika, ku ubah semua jadwalku. Rapat, syuro, kepanitiaan, tugas, ku tinggalkan semua.

Aku melaju menuju pondok kelapa, rumah embah yang selama ini menjadi tempat bermukim sementara saat aku sedang kelelahan,
rumah dimana aku bisa beristirahat dengan nyaman,
rumah dimana aku biasa bertemu dengan orangtua yang kesepian,
rumah dimana aku biasa berbincang-bincang mengenai perjalanan.
Rumah dimana aku selalu ditanya "Udah makan belum silmy?" padahal baru setengah jam lalu embah uti menyuguhkan bubur ayam kepadaku.
Rumah dimana saat aku datang lalu ditawari coffe mix kesukaanku.
Rumah dimana saat Ramadhan setidaknya aku menghabiskan waktu 3 hari disana.
Rumah yang selalu dikunjungi saat lebaran haji dan lebaran ramadhan.
Rumah dimana aku bisa menonton tv lama.
Rumah dimana aku merasa waktu berjalan cepat.
Rumah dimana aku lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Rumah kasih sayang dua orang tua yang sudah lanjut usianya.

Aku sampai disana pukul 18.37. Saat itu ku lihat ambulans sudah berada di depan rumah. Yang ku pikir adalah "Wah embah udah sembuh ya... udah bisa pulang ke rumah."
Namun kenyataan yang ada sebaliknya. Saat aku masuk ke pintu, sesosok jenazah ditutupi kain batik coklat terbaring. Ya Rabb, ada apa ini? Aku masuk dan sesenggukan. Ternyata, ini waktu yang telah dijanjikan untuk embah putri. waktu akhir hidupnya. Ku buka kain batik itu, wajah itu, masih wajah mbah utiku. Seperti orang tertidur, hanya bibirnya agak pucat.
Ku tatap wajahnya lamat-lamat, ia masih menggunakan kerudung merah. namun tak ada tarikan nafas di dadanya. kakinya pun dingin. embah, cepat sekali engkau pergi.
Beberapa jam kemudian orang melayat datang silih berganti. Adikku yang ada di solo dan di serpong di kabari. Mereka berangkat malam ini dan esok pagi. Puluhan atua bahkan ratusan tetangga datang, menyatakan duka cita. bercerita bagaimana embah hari minggu sebelumnya meminta maaf, bagaimana embah menghadiri acara lansia dengan wajah yang berbeda. bagaimana secepat ini, tanpa tanda-tanda.
Hari minggu sebelumnya, aku sedang sendirian dirumah. tiba-tiba telepon berdering, embah uti ternyata. beliau berkata "Silmy, hati-hati ya embah abis nonton di tv sekarang banyak orang jahat. Jangan pulang malam-malam ya." ku jawab "Iya embah. Embah udah makan belum?" "Udah tadi, pake bubur ayam. Silmy?" "Udah juga mbah, tadi pake nasi uduk. hehe." "Yaudah kalo gitu.. udah ya. Assalamualaikum." ku jawab "Waalaikumsalam."
ternyata, itu percakapan terakhirku dengan embah. Dan saat itu, embah yang sudah lanjut usianya, menelepon sampai dua kali. mengingatkan hal yang sama. Embah.. aku kangen.

Malam menjelang, lewat tengah malam, rumah embah masih ramai. Ada hampa menerpa dada di keramaian ini. Terkadang, kita merasa sepi padahal di sekeliling kita ramai. Aku membaca hafalanku, yang masih belum genap satu juz. aku hanya ingin embah mendengar, cucunya sedang menghafal Al-Qur'an loh. aku sering minta di doakan supaya semuanya lancar. Dan embah pasti selalu menjawab "Iya, embah selalu berdoa yang terbaik untuk cucu-cucu embah." Ku ingat bagaimana senangnya embah saat tahu aku, nida dan fika sama-sama mendapat kuliah tahun ini. Bagaimana embah bersyukur karena ketiga cucunya, ketiga gadisnya bisa melanjutkan studinya lebih tinggi.

Pagi hari, wajah embah semakin pucat, aku mencoba memeluknya, pelukan yang tak akan lagi dapat ku lakukan. Embah, semoga embah baik-baik disana, dilapangkan kuburnya, diterima segala amalannya. Aku membantu memandikan.
Saat itu aku benar-benar belajar bahwa siapa sih kita? apa yang bisa kita sombongkan jika untuk mandi saja kita tak mampu di suatu hari nanti? bahkan untuk sholat saja harus disholatkan?
Lalu dikafani, lalu proses berpamitan. satu persatu, anak-anaknya mencium. diikuti menantu dan cucunya. hanya mbah kakung yang tidak mencium karena masih sakit dan terbaring di kasur.

Dan itu adalah pertemuan terakhirku dengan embah putri. pertemuan terakhir di dunia. namun insyaAllah bertemu kembali di surga. Aamiin.


Some condition has changed. Dunia seakan berputar seratus delapan puluh derajat untuk embah kakung. Tadinya, selalu ada embah uti yang sedia untuk dipanggil saat butuh sesuatu. embah kakungku sakit, bonggol tulang pahanya remuk akibat jatuh. sehingga ia menghabiskan waktunya di tempat tidur. Meski tak jarang aku melihat mereka ribut karena hal-hal kecil, kadang mereka mengeraskan masing-masing suaranya. namun, nyatanya, pasangan yang sudah lebih dari lima puluh tahun menjalani bahtera rumah tangga dengan berbagai macam kondisi, merasa kehilangan separuh jiwanya juga.

Usai pemakaman, raut wajah embah kakung biasa saja, tak tampak rasa kesedihan. namun, semua bermula saat perlahan orang-orang (re: keluargaku) mulai kembali ke kehidupannya masing-masing setelah berkumpul melihat embah uti untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang tadinya lebih sering diisi berdua itu, kosong. sunyi. sendiri. Ummi terkadang bolak-balik kesana. namun tetap berbeda rasanya. hingga akhirnya embah kakung dibawa ke rumahku.

Bukan sekali dua kali embah kakung berteriak memanggil "Bu... Bu.." itu adalah panggilan embah kakung untuk embah uti. Iya, itu, begitu. Saat ku hampiri, dan ku jawab "Mbah, mbah uti kan udah ngga ada.." lalu ia istighfar. "Embah lupa silmy.."

Tiba-tiba saja hatiku teriris. Iya, meski selama ini mereka terlihat kurang harmonis, namun saat akhirnya maut yang memisahkan, jauh di lubuk hati embah kakung terdalam, ia sangat mencintai embah uti. pikirannya melayang saat muda dulu, saat awal membangun rumah tangga. Ya Allah, aku jadi terenyuh.

Iya, embah uti. Aku kangen. Kangen sekali. Aku kangen dipeluk embah. Aku kangen embah tanyain udah makan atau belum. Aku kangen dinasihatin sama embah. Ngga nyangka lebaran tahun ini embah udah ga bareng lagi.. engga nyangka:" Semoga embah baik-baik aja yaa mbah. semoga disana embah bisa jauh lebih menikmati hari-harinya, seperti saat bagaimana embah tersenyum di terakhir kalinya.

"Ketahuilah, bahwa kehilangan akan selalu memberikan dampak. Baik itu terlihat atau tidak. Baik itu sebentar atau lama dan Baik itu bermakna atau tidak."

Ya Rabb, jagalah embah.
Rabbighfirli wali wali dayya warham humaa kamaa rabbayani shoghiro. Aamiin,

Salam cinta dari cucu pertamamu,
Silmy Kaaffah