Thursday, August 27, 2015

Behind the Scene of OKK IM FKM UI 2015

Halo, Assalamualaikum!

Salah satu rangkaian OKK terpenting Alhamdulillah sudah terlewati. Sukses tidaknya bisa dibilang relatif, yang jelas kita masih memiliki harapan besar untuk angkatan Juara serta banyak pekerjaan lagi untuk kedepannya.

Liburan kali ini sungguh mengharukan, harus kembali aku bertanya "Kapan sih libur?" But, i'ts my choice. Saya sudah memilih untuk turun tangan di OKK. Sebuah kepanitiaan yang sangat perlu di seriusi karena proker kita bukan hanya acara sehari selesai, bukan pula acara yang indikator kesuksesannya dapat dilihat serta merta. Yang kita hadapi adalah manusia, mahasiswa baru yang memiliki gairah ilmu baru. Disinilah tantangannya, proses kaderisasi yang panjang inilah yang akan menjadi sebuah awalan cerita bagi kamu, para mahasiswa baru FKM UI 2015.

Ternyata, banyak sekali hikmah yang bisa saya petik dari kepanitiaan luar biasa ini. Saya begitu bersyukur masih diberi kesempatan menjadi salah satu BPH dari OKK IM FKM UI 2015.
 
Kita memiliki tagline "Bersatu, Peduli, Berdedikasi." Sebuah tagline yang lahir dari sebuah diskusi panjang di malam hari, diskusi yang dimulai dari masalah-masalah apa yang ada di FKM, solusinya bagaimana dan apa nilai yang akan kita tanamkan kepada mahasiswa baru. Dalam suasana kantuk yang menyergap tubuh saya, ternyata di depan saya, Kak Shenna sang Project Officer sedang berpikir keras untuk menentukan nilainya. Saya hanya malu, ternyata sampai segitunya ya untuk menentukan nilai,

Menjadi seorang panitia ospek fakultas,
Ketika kita sepakat untuk menanamkan 6S (Salam, sapa, sopan, santun, senyum dan semangat) kepada warga FKM, satu minggu kebelakang saya sadar bahwa yang pertama kali harus melakukannya adalah panitianya. Maka, saat itu saya belajar untuk menerapkan 6S kepada seluruh sivitas akademia di FKM. Dari mulai saya turun dari motor kepada satpam, kepada cleaning service yang sejak pagi sudah datang untuk bersih-bersih, kepada mas penjanga mahalum, kepada teman sejawat, kepada kakak kelas yang mungkin belum saya kenali, kepada anak ekstensi dan S2, kepada adik SMK yang sedang magang, kepada dosen-dosen yang mungkin belum saya kenali. Dimulai dari hal sesederhana itu, tersenyum saat lewat, menanyakan kabarnya. Awalnya agak malas karena berpikir "ngapain nyapa orang yang ga kita kenal atau ngapain nyapa mas-mas CS, ntar digodian gitu." Nyatanya, saya merasa hati saya menjadi lebih luas setelah melakukan hal tersebut. Saya jadi lebih bisa ngobrol sedikit dan berbincang-bincang serta menambah relasi baru. Ah iya, setahun yang lalu bukankah saya pernah diajari hal tersebut namun saya abaikan?

Ketika kita sepakat untuk mengadakan dinamika angkatan, saya sungguh berapi-api ketika mengetahui bagaimana cara seluruh panitia menyusunnya. Dari mulai menganalisis sikap para mahasiswa baru, lalu berusaha mencari alternatif cara penanaman nilai bersatu, bagaimana cara membangun suasana haru, bagaimana membangun kesadaran mereka untuk serius mengikuti rangkaian okk, bagaimana pendekatan yang tepat, bagaiama komdis akan menjadi orang yang paling dominan, yang memikirkan setiap kata yang akan terucap, belajar memanusiakan manusia. Oh, sampai segitunya ya.. tidak ada drama disini, yang ada adalah niat tulus untuk membuat kalian sadar bahwa dunia perkuliahan itu berat tak bisa main-main.

Ketika kita sedang berdiskusi tentang tugas untuk maba, sesungguhnya ada rasa yang membuncah dalam hati saya. Setiap detil tugas yang diberikan panitia memiliki esensi yang jelas, dipikirkan berbagai manfaatnya, apakah menyusahkan dan memungkinkan atau tidak untuk dikerjakan, pemilihan kata di dalam booklet juga dibaca dan direvisi satu per satu. Seperti tugas membuat lifeplan seumur hidup, lifeplan mingguan, wawancara, datang ke perpustakaan, tugas resume, baca buku dsb. Hati saya membuncah sekaligus sedikit menyesal karena setahun yang lalu saya mengerjakan tugas tidak dengan sepenuh hati, saat itu saya hanya berpikir bagaimana caranya yang penting selesai. Maka, hari ini aku kembali belajar untuk menerapkan kebiasaan baik seperti menyusun jadwal dan menetapkan mimpi.

Ketika dalam waktu 3 hari saya serta teman-teman seminar harus menghubungi 10 orang pembicara penting untuk menjadi pengenal sistem akademik fakultas, tak terhitung peluh yang keluar, rasa ingin berontak dan marah karena sebegitu mendadaknya. Mungkin salah saya yang tidak memfollow up lebih jauh, tapi saya merasa begitu banyak belajar di seminar PSAF. Bagaimana cara berkoordinasi dengan baik dengan dosen, staf perlap, teknisi, bagaimana harus bertindak cepat, kita sebagai mahasiswa harus memiliki pandangan yang luas dan jelas dalam menyampaikan sesuatu. Ya, di PSAF hari senin, rasanya badan seperti di cincang-cincang. Overall, saya senang karena di akhir pertemuan, dua dosen kece fkm bilang gini "Sukses yaa acaranya. Keren kamu bisa bikin acara kaya gini.."

Saya merasa sangat banyak tamparan yang diberikan kepada saya. Rasa sesal itu ada tapi saya gamau kalian kaya gitu adik-adik. Semangat untuk berkembang menjadi mahasiswa seutuhnya:)

Big thanks to:
Kak Shenna yang mempercayaiku menjadi PJ seminar
Anak-anak seminar, Putri, Apria Retno yang udah abis-abisan buat bikin semua ini
Kak khansa: yang selalu mau memberi masukan terkait materi dan beberapa saran referensi malam.
Kak Ojan yang selalu totalitas sampe-sampe ga mandi
Udin yang loyal ngebuat akhirnya saya nyaman dengan panitia lainnya
dan jajaran panitia lainnya.

MASIH ADA MABIM DAN MAGANG. SEMANGAT!

1 comment:

  1. aakk ka silmy the best'o banget deh <3

    ReplyDelete