Wednesday, January 4, 2012

Duhai Negeriku, Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana..

Senin, 12 Desember 2011 15:30 wib

DALAM sejarah, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan cendekiawan orde lama sebagai negara hukum. Konsekuensinya adalah konsistensi terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan secara universal, baik itu adil dalam pembangunan nasional, penegakan hukum dan sebagainya termasuk penindakan terhadap para pelaku korupsi.



Tetapi mengapa banyak fenomena yang terjadi di negeri ini bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang universal tersebut? Korupsi merajalela, masyarakat sekarang disuguhkan pada berita-berita korupsi pejabat pemerintah baik level pusat maupun daerah. Tindakan inkonsistensi orang-orang atas yang seharusnya menjadi teladan pun banyak kita ditemui.



Agaknya, politiklah yang sekarang menjadi panglima dalam setiap sendi kehidupan di negeri ini, bukan lagi hukum. Hukum dari zaman ke zaman mulai mengalami ketumpulan. Hukum itu seakan tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Banyak kaum proletar justru menjadi korban, sedangkan kaum elite di negeri ini selalu berpikir pragmatis dalam menyelesaikan perkara yaitu dengan jalur politik, ketimbang jalur hukum. Tampaknya memang status negara hukum Indonesia sudah beralih menjadi negara politik. Lebih tepatnya, negara politik kekuasaan, hingga hukum yang bersikap mutlak dan pasti pun dipolitisasi untuk mendapatkan kekuasan.



Sebenarnya kemampuan putra bangsa Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Banyak putra bangsa yang menyabet medali dalam olimpiade internasional, betapa banyak putra bangsa yang mendapatkan nobel tingat internasional pula.



Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, rasanya Indonesia tidak kalah dalam bidang intelektualitas. Bahkan dengan Amerika sekali pun yang notabene merupaka negara adidaya. Salah satunya terlihat jelas di laga Olimpiade Sains tingkat internasional, Indonesia parkir di peringkat atas bersama dengan China dan India.



Akan tetapi mengapa Indonesia kalah maju dengan negara-negara tersebut dan kesejahteraan rakyat di Indonesia masih memprihatinkan? Ini tidak lepas dari kondisi realita bangsa kita yang sudah menjadi negara politik. Sistem pemerintakan kita mengalami inkonsistensi kebijakan, birokrasi yang buruk, profesionalitas yang rendah, integritas para petingginya yang masih dipertanyakan dan pejabat-pejabat negara yang banyak melakukan tindakan korupsi.



Maka, sebaik apa pun sumber daya manusia Indonesia terutama dalam bidang intelektualitas, maka itu semua adalah percuma. Ibarat menanam pohon, sebagus apapun bibit tanaman yang akan ditanam selama bibit itu ditanam di lahan yang tidak subur alias gersang, maka bibit itu tidak akan tumbuh maksimal, bahkan bisa saja bibit itu mati.



Duhai negeriku, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Integritas, kebenaran, dan keadilan adalah nilai-nilai universal, dan setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai tersebut. Keadilan akan mudah tercapai, kebenaran itu pasti akan menang dan integritas itu akan tertanam di setiap sanubari rakyat Indonesia asalkan nilai-nilai tersebut bisa disuarakan dan ditransparansikan.



Sekali lagi, karena setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai luhur tersebut. Disuarakan yakni sebelumnya harus dibenamkan dalam diri pribadi kemudian disebarkan ke orang lain, sedangkan ditransparansikan dalam artian tidak ada dusta di antara kita.



Duhai negeriku, terimalah ini sebagai moral commitment-ku. Mulai dari diriku, aku berjanji akan menggenggam erat nilai-nilai luhur tersebut. Kemudian aku akan belajar untuk menyuarakannya dengan lantunan nada seindah mungkin aku bisa, dengan harapan agar nilai-nilai tersebut diterima oleh khalayak dan bisa mentransparansikannya tanpa syarat. Baik itu mulai dari keluargaku, teman dekatku, organisasi kampus sampai masyarakat sekitar. Yakinku, literatur bukanlah dalil yang digunakan sebagai pembenaran atas sikap dan gagasanku, akan tetapi ia adalah dalil untuk mencari kebenaran dari setiap gagasan dan sikapku yang bisa jadi itu salah.



Kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia adalah akumulasi dari individu-individu yang tinggal di negeri ini. Asalkan individu-individu di dalamnya memiliki keahlian masing-masing dan etos kerja yang bagus, maka dengan sendirinya Indonesia akan menjadi negara yang maju.



Duhai Indoensia, aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana. Aku ingin menjadi seorang ahli dalam bidangku, menjadi seorang spesialis dan pembelajar yang hebat di bidangku, agar ilmuku nanti bisa aku sumbangkan untuk kamajuanmu Indonesia, untuk kesejahteraan rakyat yang ada di rahimmu.



Aku akan mendorong sistem yang ada di lingkungan sekitar, agar konsep spesialisasi mulai dibangun dan benar-benar diterapkan dengan konsisten. Maka, jadilah kita orang yang hebat di bidang kita masing-masing, karena kemajuan bangsa ini adalah akumulasi dari individu-individu yang ada di dalamnya, termasuk aku, kamu, dan kita semua.



Hidup harmonis adalah keinginanku, karena harmoni itu menentramkan. Ia adalah prinsip yang mesti dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kuncinya adalah satu, open mind, terbuka terhadap nilai-nilai yang ada. Karena Indonesia ialah negeri seribu cerita, yang kaya akan corak dan budaya. Terbuka berarti tidak bersikap kegolongan, menerima nilai-nilai kebaikan dari luar, memberikan toleransi akan perbedaan yang ada dengan tetap berprinsip kepada kebenaran dan keadilan yang universal.



Selanjutnya, pembangunan karakter yang konsisten dan berkelanjutan itu sangat penting. Integritas itu harus dipegang dan ditanamkan sejak sekarang juga, mulai dari hal yang kecil. Saat ini, sering ditemui seseorang menggadaikan integritasnya hanya karena gengsi dan hal sepele. Sebagai contoh, ada seseorang mahasiswa hidup dengan teman-temannya yang memiliki budaya titip absen. Dia dimintai tolong untuk mengabsesnkan temannya, karena gengsi, dianggap tidak setia kawan atau apapun itu, akhirnya mahasiswa tersebut mengabsesnkan temannya yang jelas tidak masuk kuliah. Dari sini integritas mulai luntur, dari hal yang kecil dan sepele.



Duhai negeriku, aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana. Aku akan menyuarakan integritas itu dengan nada-nada yang indah yang bisa diterima oleh orang-orang sekitar. Sekali lagi, karena setiap orang memiliki hati nurani yang senada dengannya. Tinggal kita yang menyuarakan nilai tersebut agar hati nurani orang-orang sekitar kita bisa menangkap nilai-nilai luhur yang kita rasakan.



Belajar saat usia dini bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan belajar saat usia tua seperti mengukir di atas air. Pendidikan karakter memang sulit, tetapi lebih sulit lagi kalau itu dilakukan saat masa tua. Sehingga masa kanak-kanak merupakan masa yang pas untuk pendidikan karakter itu.



Dengan cara apa? Yaitu dengan cara membahasakannya dalam bahasa mereka, bahasa yang familiar dengan anak-anak. Pendidikan karakter itu bisa dibahasakan dalam bentuk film kartun, dalam bentuk komik-komik, dongeng-dongeng heroik dan juga kemasan lain yang sesuai dengan bahasa mereka.



Sepele memang, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil akan terus membekas hingga hari tua. Dengan seperti ini, maka moral penerus bangsa Indonesia setidaknya akan memiliki integritas yang lebih baik dan lebih berkarakter.



Duhai negriku.. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, maka terimalah cintaku yang sederhana ini.

Ardian Umam

Mahasiwa Teknik Elektro

Universitas Gadjah Mada (UGM)(//rfa)

source:http://www.facebook.com/notes/rhedylla-dwi-poetra/duhai-negeriku-aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/10150480856511009?ref=notif¬if_t=note_tag

No comments:

Post a Comment